Sosial Diposting 14 Oktober 2026 Super Admin

KDD BELAWA JADI RUANG TUMBUH BERSAMA: DARI BERBAGI PERAN HINGGA MENUMBUHKAN KEPERCAYAAN DIRI DIFABEL

KDD BELAWA JADI RUANG TUMBUH BERSAMA: DARI BERBAGI PERAN HINGGA MENUMBUHKAN KEPERCAYAAN DIRI DIFABEL

BELAWA, 14 Oktober 2026 -  Kelompok Difabel Desa (KDD) Belawa menggelar pertemuan rutin di Gedung Dodol, Belawa, pada Rabu (14/10/2026).

Pertemuan ini menjadi ruang bagi anggota untuk berbagi peran, menyampaikan perkembangan kegiatan, membangun keterbukaan organisasi, serta saling menguatkan melalui cerita pengalaman sehari-hari.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mendorong pemberdayaan dan inklusi difabel di tingkat desa melalui Program SOLIDER yang dijalankan FKDC mitra SIGAB Indonesia, dengan dukungan Pemerintah Australia dan Pemerintah Indonesia melalui Program INKLUSI.

Pertemuan berlangsung dengan melibatkan anggota dalam berbagai peran. Ibu Icih, bertugas sebagai pembawa acara (MC). Sementara itu, Ketua KDD Belawa, Bapak Rasta, menyampaikan sambutan mengenai pentingnya kebersamaan dan partisipasi anggota dalam kegiatan kelompok.

Pada kesempatan tersebut, Ibu Cucu membacakan laporan keuangan sebagai bagian dari upaya membangun transparansi dan tanggung jawab dalam pengelolaan organisasi. Keterlibatan anggota dalam setiap agenda menjadi salah satu wujud bahwa kelompok difabel dapat dikelola secara partisipatif dengan memberikan kesempatan kepada setiap anggota untuk berkontribusi.

Kisah Ibu Titi: Dari Rasa Takut Menuju Keberanian

Salah satu momen bermakna dalam pertemuan tersebut adalah sesi berbagi pengalaman anggota. Melalui sesi ini, anggota dapat menceritakan aktivitas keseharian, tantangan yang dihadapi, serta perubahan yang mereka rasakan setelah bergabung dengan KDD.

Ibu Titi, misalnya, sehari-hari menjalankan aktivitas mencari rumput untuk pakan kambing. Di balik rutinitas tersebut, ia memiliki pengalaman tentang proses membangun keberanian dalam berinteraksi dengan orang lain.

Sebelum bergabung dengan KDD, Ibu Titi mengaku merasa takut ketika bertemu orang yang belum dikenalnya. Ketika ada orang yang bertanya, ia merasa takut hingga menangis.

Namun, setelah bergabung dengan KDD Belawa, ia mulai merasakan perubahan. Ia merasa memiliki banyak teman dan mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi dalam lingkungan yang mendukung.

Kini, Ibu Titi mulai berani menjawab ketika ada orang yang bertanya kepadanya. Perubahan ini menjadi pengalaman berharga, sekaligus menunjukkan pentingnya ruang pertemuan yang memberikan kesempatan bagi difabel untuk membangun hubungan sosial dan kepercayaan diri.

Kisah Ibu Titi memperlihatkan bahwa pemberdayaan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Keberanian untuk menjawab pertanyaan, berinteraksi dengan orang lain, dan merasa menjadi bagian dari kelompok merupakan perkembangan yang patut dihargai.

KDD sebagai Ruang Partisipasi dan Saling Menguatkan

Pertemuan rutin KDD Belawa bukan sekadar agenda organisasi, melainkan juga ruang aman bagi anggota untuk menyampaikan pengalaman, belajar satu sama lain, dan membangun solidaritas.

Melalui kegiatan seperti ini, anggota dapat saling memahami kondisi masing-masing, berbagi cara menghadapi tantangan, serta memperkuat keyakinan bahwa setiap orang memiliki potensi dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat.

Semangat tersebut sejalan dengan upaya mewujudkan desa yang inklusif, yakni desa yang tidak hanya mengakui keberadaan penyandang disabilitas, tetapi juga membuka kesempatan bagi mereka untuk terlibat dalam proses pembangunan dan pengambilan keputusan.

Melalui Program SOLIDER, FKDC bersama SIGAB Indonesia, dengan dukungan Pemerintah Australia dan Pemerintah Indonesia melalui Program INKLUSI, diharapkan ruang-ruang partisipasi seperti KDD terus berkembang dan memberikan manfaat nyata bagi anggota serta masyarakat.

Dari Belawa, sebuah pesan menguat: ketika difabel diberi ruang untuk berpartisipasi, didengarkan, dan saling mendukung, tumbuh kesempatan untuk membangun kepercayaan diri, memperluas relasi sosial, dan berkontribusi bagi lingkungan.

Karena inklusi bukan sekadar mengajak difabel hadir dalam sebuah pertemuan, melainkan memastikan bahwa mereka memiliki kesempatan untuk mengambil peran, menyampaikan suara, dan tumbuh bersama masyarakat.

0 komentar

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.
Sebelumnya BELAJAR DARI RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM: JANGAN JADIKAN MASYARAKAT YANG TERTINGGAL SEBAGAI MASALAH Selanjutnya Dari Lele Berharga Rendah Menjadi Produk Bernilai Tambah, KDD Desa Nanggela Kembangkan Usaha Kerupuk Ikan Lele