Sosial Diposting 17 Agustus 2026 Super Admin

Kemensos Sukabumi Tinjau Saung Kreasi Difabel Lemahabang, Dorong Ekonomi Sirkular Berbasis Limbah, Maggot dan Ayam Petelur

Kemensos Sukabumi Tinjau Saung Kreasi Difabel Lemahabang, Dorong Ekonomi Sirkular Berbasis Limbah, Maggot dan Ayam Petelur

CIREBON — Saung Kreasi Difabel Kecamatan Lemahabang kembali menjadi ruang bertemunya gagasan, kolaborasi, dan inovasi dalam penguatan pemberdayaan difabel. Kunjungan dari jajaran Kementerian Sosial wilayah Sukabumi menjadi momentum penting untuk melihat secara langsung potensi pengembangan Saung Kreasi sebagai ruang usaha, kreativitas, sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat difabel.

 

Kunjungan tersebut tidak hanya melihat aktivitas Saung Kreasi, tetapi juga membahas peluang pengembangan usaha berbasis ekonomi sirkular, khususnya pemanfaatan limbah yang dihasilkan dari aktivitas kafe dan lingkungan sekitar.

 

Salah satu gagasan yang menjadi perhatian adalah pemanfaatan limbah organik untuk budidaya maggot, yang selanjutnya dapat dikembangkan sebagai sumber pakan alternatif untuk budidaya ayam petelur. Dengan pendekatan tersebut, limbah yang sebelumnya dianggap sebagai persoalan dapat diolah menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.

 

Konsep ini sejalan dengan semangat Saung Kreasi Difabel, yaitu menghadirkan ruang produktif bagi teman-teman difabel untuk berkarya, belajar, berusaha, dan membangun kemandirian sesuai dengan potensi masing-masing.

 

Selain pengembangan maggot dan ayam petelur, pengelolaan limbah dari aktivitas kafe juga diarahkan agar dapat memberikan manfaat bagi pengembangan lingkungan Saung Kreasi, termasuk mendukung kegiatan pertanian sederhana dan pemanfaatan lahan secara produktif.

 

Ketua FKDC Abdul Mujib menyampaikan bahwa Saung Kreasi sejak awal tidak hanya dirancang sebagai tempat berkumpul atau kafe, tetapi sebagai ruang pemberdayaan yang terus dikembangkan melalui kolaborasi.

 

“Kami ingin Saung Kreasi menjadi ruang yang terus tumbuh. Bukan hanya tempat teman-teman difabel berkarya, tetapi juga menjadi tempat belajar tentang usaha, lingkungan, pengelolaan limbah dan ekonomi sirkular.”

 

Menurutnya, pengembangan maggot dan ayam petelur merupakan bagian dari upaya memperluas pilihan usaha produktif bagi difabel. Model tersebut diharapkan dapat dikembangkan secara bertahap dan disesuaikan dengan kemampuan kelompok serta kondisi lingkungan.

 

Kunjungan Kemensos juga menjadi peluang untuk memperkuat komunikasi dan membuka kemungkinan kolaborasi dalam pengembangan program pemberdayaan ke depan.

 

FKDC berharap Saung Kreasi Difabel Kecamatan Lemahabang dapat menjadi contoh bahwa inklusi tidak berhenti pada akses dan pelayanan, tetapi juga harus menghadirkan kesempatan untuk berkarya, bekerja dan memiliki kemandirian ekonomi.

 

“Dari limbah kita belajar bahwa sesuatu yang dianggap tidak bernilai ternyata bisa menjadi sumber kehidupan. Begitu pula dengan difabel, jangan melihat keterbatasannya, tetapi lihat potensi dan karya yang mampu dihasilkan,” tambahnya.

 

FKDC menyampaikan terima kasih kepada jajaran Kementerian Sosial wilayah Sukabumi atas kunjungan, perhatian dan gagasan yang diberikan untuk pengembangan Saung Kreasi Difabel Kecamatan Lemahabang.

 

Ke depan, FKDC bersama Kelompok Difabel Kecamatan Lemahabang dan para pihak terkait akan terus mendorong Saung Kreasi menjadi pusat kreativitas, pemberdayaan, UMKM dan inovasi inklusif yang memberikan manfaat bagi difabel maupun masyarakat secara luas.

 

0 komentar

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.
Sebelumnya Perjuangkan Hak Difabel, Abdul Mujib Raih Penghargaan ‘Pejuang Inklusi